Rabu, 09 Juni 2021

MENDAUR ULANG MASA LALU


Halo!

Kembali lagi ngeblog setelah setahun tidak menulis. Ada banyak yang pengen saya sharing ke kalian semua yang akan baca. 

Kini saya mau sharing tentang “MENDAUR ULANG MASA LALU” dari khotbah yang didapat di salah satu channel Youtube. Ada beberapa yang sudah saya nonton dari Youtube, pengen saya sharing tulisan tapi belum ada waktu. Suatu saat saya akan sharing di blog ini sebagai kenangan.

Sahabat pasti sudah tahu, kan..? Walaupun pandemi di Indonesia masih belum berakhir, banyak orang di sini sudah lama beribadah online dan ada pula beberapa gereja yang sudah mengadakan ibadah onsite. Hidup adalah perjuangan…yang harus kita lalui di tengah pandemi.

Nah, saya mau membahas sharing tentang Mendaur Ulang Masa Lalu berdasarkan dari kisah tokoh Alkitab Yakub dan anaknya, Yusuf, yang di mana kisah Yusuf ini dijual sebagai budak dan dibeli oleh seorang pegawai Istana Firaun, Potifar, hingga akhirnya dia diangkat sebagai Perdana Menteri. (Kejadian 39 - 45)

Kejadian 39 : 2 berbunyi:

Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” 

-------

Genesis 39 : 2 (MSG) :

As it turned out, GOD was with Joseph and things went very well with him. He ended up living in the home of his Egyptian master.

Dari ayat di atas ada satu hal yang kita pelajari adalah tentang PENYERTAAN TUHAN dalam kehidupan Yusuf walaupun kondisi yang dihadapinya tidak mudah dan tidak menyenangkan.

“Jangan samakan penyertaan Tuhan dengan suasana hati yang baik atau kondisi hidup yang menyenangkan.”

Kita sebagai anak Tuhan, percaya kondisi hati Yusuf pada waktu itu tidak dalam kondisi yang baik. Dia mengalami terluka secara emosional setelah mendapat perlakuan yang tidak baik oleh saudara- saudaranya, dijual sebagai budak, kemudian merasa sendiri karena terpisah dari orangtuanya.

Namun apa?

Yap, TUHAN tetap menyertai Yusuf. Sama halnya kita juga. Mungkin kalian Sahabat pernah mendapat perlakuan buruk oleh keluarga atau saudara atau teman, bahkan sama senior atau mungkin sama leader atau siapa, tidak ada seorang pun yang membela atau menghibur kecuali hanya TUHAN yang bisa menolong Sahabat.

------------

Saya sendiri pernah seperti dialami di dalam kisah Yusuf oleh saudara- saudaranya. Saya cerita singkat saja di sini. Dulu sewaktu saya dipindahkan ke sekolah umum dari sekolah khusus. Pernah mendapat perlakuan buruk oleh beberapa teman Dengar tapi tidak sampai sering karena saya percaya mereka hanya iseng. Tapi, makin lama makin buruk cara mereka memperlakukannya terhadapku. Bullying secara fisik karena keterbatasanku. Padahal saya tidak punya salah apa- apa sama mereka. Akhirnya saya memilih untuk diam, meneruskan belajar sampai lulus. Dan waktu itu saya pernah merasa trauma beberapa kali, bahkan waktu di SMA. Saya tetap berbuat kebaikan ke mereka.

Bersyukur karena Tuhan masih menyertai saya lewat bimbingan belajar dan juga sedikit bantuan dari beberapa teman baik, sehingga saya langsung lupa sama rasa trauma karena kejadian tersebut. Meskipun mereka tetap memperlakukannya sama kepada saya, bagian saya tetap memaafkan mereka.

------------

Bukan cuma saya, teman- teman Tuli dan teman Disabilitas juga pernah mendapat perlakuan buruk dari orang- orang sekitarnya. Seperti pernah Sahabat lihat atau baca di media sosial atau pada berita di Televisi. Cara yang sudah mereka lakukan dan perjuangkan lewat kisah kebaikan Yusuf. Tuhan terus menyertainya.

Terus ada beberapa poin yang didapat dari belajar dari kehidupan Yusuf:

1.        Jangan melakukan kebodohan untuk berbuat dosa

è  Lebih baik kehilangan segalanya, tetapi Anda TIDAK KEHILANGAN Tuhan

2.        Belas Kasihan lebih penting di hadapan Tuhan

è  Jadilah pribadi yang LEBIH PEDULI dan MENGASIHI orang lain.

3.        Pemulihan adalah hal yang penting bagi Tuhan.

è  Tuhan tidak menikmati penderitaan kita, tetapi Tuhan SENANG dengan perkembangan kita.

4.        Pemulihan hati melibatkan pemulihan masa lalu

è  PERCAYAKAN apa yang Anda alami ke dalam tangan Tuhan. IZINKAN Tuhan mendaur ulang kejadian masa lalu Anda dan memulihkan Anda.

5.        Pengampunan tidak mengurangi keadilan.

è  Ketika Anda memilih untuk MENGAMPUNI, Anda sedang MENYERAHKAN keadilan itu kepada Tuhan.

 

Poin – poin di atas, poin yang mana yang menjadi pergumulan Sahabat?

Kalau Sahabat memilih semuanya, semoga Sahabat bisa merenungkan dan bagaimana mendaur ulang masa lalu lewat kisah Yusuf di Kejadian 39 – 45. Kalau saya sendiri hanya memilih beberapa poin, saya tetep renungkan dan perbaiki. Kalau Sahabat hanya pilih satu – dua poin saja, mungkin bisa masuk ke masa memperbaiki atau introspeksi diri.

See, setiap manusia terlahir di dunia ini tidak ada yang sempurna. Tidak ada manusia yang hidupnya benar. Bahkan hidup mulus bangeeett… Pasti ada masalah yang harus dihadapi di kehidupan ini.

Seperti pada kisah tokoh Alkitab Yusuf atau siapa lagi yang mungkin Sahabat kenal. Kisah yang penuh lika- liku dialami oleh Yusuf oleh saudara- saudaranya, sebelum dia mulai menunjukkan kebaikannya dan mau mengampuni perbuatan saudara- saudaranya yang membencinya. Dia memilih tetap kehilangan segalanya tapi tidak meninggalkan Tuhan, menunjukkan rasa peduli dan belas kashan dengan menolong walaupun dirinya dilupakan. Cara yang telah dilakukan Yusuf di masa - masa seperti ini, Tuhan menyertainya sampai akhirnya dia diangkat menjadi Perdana Menteri di Istana Firaun.

Nah..

Mungkin Sahabat punya pergumulan tentang masa lalu yang sulit dilupakan.

Mungkin Sahabat pernah menyinggung perasaan atau menyakiti teman entah keluarga entah sama pasangan.

Mungkin Sahabat pernah membenci mereka karena satu hal.

Mungkinkah … ?

Namun balik lagi, apakah Sahabat ada yang memilih tetap mengingatnya atau melupakannya. Ini keputusan di tangan Sahabat. Kalau Sahabat masih terjebak di masa lalu, memilih untuk menghindari orang lain atau membencinya, mungkin bisa jadi pertanda sahabat belum dewasa untuk menerima kenyataan atas kesalahan yang dibuat orang lain terhadap Sahabat. Saya tidak mau menyebut siapa, saya hanya mengingat atau memberi saran atau masukan bagi yang membaca agar memahami apa yang sudah Sahabat alami selama ini.

Saya juga pernah melakukan kesalahan kepada seorang teman atau bahkan pernah ke beberapa teman sampai dibuat benci atau tidak nyaman. Saya memilih untuk tidak meninggalkan Tuhan, tetap peduli dan tulus, melakukan pemulihan dan melakukan pertobatan kepada Tuhan. Tuhan tetap menyertai saya, Tuhan tahu apa yang menjadi pergumulan saya. Sesuai poin- poin di atas, saya terus mengingatnya. Jangankan saya, kita semua juga harus mengingatnya agar tidak menyesal di kemudian hari karena kesalahan- kesalahan yang terjadi.

Bahkan juga saya pernah mendapat perlakuan tidak baik oleh orang- orang di sekitar bahkan teman- teman sekolah atau kuliah. Saya berusaha untuk tidak membalas perlakuan mereka, tetap menunjukkan kebaikan kepada mereka. Everything needs process for them buat bisa berbaikan kembali lewat pemulihan dan pengampunan. Meski ini satu- satunya bagian tersulit, Sahabat pasti bisa melakukannya juga kepada orang lain.

Dan, kita juga mengingat salah satu kata- kata bijak yang pernah kita baca di postingan Ps. Philip Mantofa :

“Lebih baik belajar dari kesalahan orang lain daripada belajar dengan cara yang keras dari kesalahan sendiri. Perhatikanlah apa yang terjadi di sekelilingmu dan terimalah nasihat, jangan tunggu sakit baru sadar."

Sebuah kalimat pengingat untuk kita semua. Terutama Sahabat yang punya masalah dalam hubungan pertemanan (misalnya menghadapi teman yang toxic atau posesif, atau sikap apalah), hubungan sama pasangan, keluarga, bahkan sama teman kantor Sahabat. Kita bisa belajar bagaimana cara menghadapi, memperbaiki (introspeksi diri) dan melupakan masa lalu (move on) sebelum akhirnya kita bisa berdamai dengan teman, keluarga, atau sama pasangan (mungkin iya atau tidak) bahkan sama orang- orang di lingkungan sekitar kita lewat kisah dari kebaikan Yusuf.

Balik lagi ke tentang belajar dari kisah Yusuf yah, mungkin poin – poin tersebut tidak mudah dilakukan. Kita pasti bisa melakukannya dimulai dari sekarang. Jangan tunggu kapan….

Berhenti berbuat dosa -> tunjukkan rasa peduli -> pemulihan di dalam Tuhan -> mendaur ulang masa lalu -> melakukan pengampunan

Kolose 3 ayat 13

“Tabahlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila seseorang melalui terhadap yang lain. Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu kamu juga perbuatlah demikian.”

Yap! Bagian tersulit adalah mengampuni kesalahan orang lain. Memaafkan kesalahan orang lain. Walau misalkan A sudah minta maaf sama orang lain, tetapi reaksi orang lain tetap gimana ya, masih marah atau harus pikir- pikir. Hanya kita yang bisa menyerahkan semua kesalahan kepada Tuhan, maka Tuhan yang mengerjakan semua untuk Sahabat. Bagian kita tetap memperbaikinya dan melupakan kesalahan yang terjadi. Karena memperbaiki kesalahan adalah sebuah kasih karunia yang Tuhan beri kepada kita sehingga kita bisa melupakan masa lalu.

Jangan sampai kita terjebak dalam kesalahan atau rasa bersalah terus – menerus hingga kita tidak ada di dalam kehidupan ini, terus minta pemulihan dan pengampunan kepada Tuhan. Tuhan yang memulihkan kita. Tentunya memulihkan Sahabat. Seperti Yusuf memaafkan saudara- saudaranya.

---- End of my Stories ----

Terima kasih sudah membaca sharing dari saya. Semoga apa yang saya bagikan bermanfaat untuk kalian semua. Tuhan Yesus memberkati.

Senin, 28 Desember 2020

#RenunganKristen - Empati Tanpa Menghakimi


Roma 12 : 9 – 18

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” – Roma 12 : 15

Privilege, hak istimewa. Kata ini belakangan cukup sering digunakan masyarakat. Privilege adalah keistimewaan yang dimiliki orang- orang tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Mereka yang lahir sebagai anak orang kaya, dianggap punya privilege berupa fasilitas dan kemudahan bidang ekonomi. Mereka yang lahir sebagai pria dianggap lebih punya privilege daripada perempuan, atau bisa sebaliknya. Ada pula lahir sebagai suku atau agama mayoritas dianggap punya privilege dibanding yang lahir dari golongan minoritas, dll. Di mata Sebagian orang, maka yang punya privilege ini dianggap menjalani hidup lebih mudah.

Di satu sisi mungkin benar. Tapi, bisa jadi juga salah. Contoh, jika anak orang kaya sukses merintis perusahaan sendiri, belum tentu ia punya privilege. Anak orang kaya juga berjuang. Mereka berjuang untuk tidak hanya memanfaatkan kekayaan orangtua, foya- foya, bermalasan, dimanfaatkan orang, dll. Ini belum tentu lebih mudah dari perjuangan anak orang tak mampu (atau bisa anak dengan disabilitas). Jika kita menganggap mereka yang lebih dari kita (lebih kaya, lebih berkuasa, lebih muda, lebih cantik / ganteng, dll) pasti hidupnya jauh lebih mudah dari kita. Itu justru BISA MEMATIKAN empati di diri kita. Akibatnya, saat mereka bercerita atau curhat pada kita, kita buru- buru menyanggah,”Kamu itu kurang bersyukur.” “banyak orang tidak seberuntung kamu.” Atau nasihat serupa yang malah terkesan menyepelekan masalahnya.

Paulus berkata, bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah denagn orang yang menangis! Inilah salah satu bentuk EMPATI yang harus kita miliki. Kenyataannya, beban dan kemampuan tiap orang itu beragam (Galatia 6:5). Masalah yang datang saat orang siap dan tidak siap juga akan punya dampak berbeda.

 Artinya, orang itu tidak adil membandingkan kesusahan satu orang dengan orang lainnya. Ada juga orang yang menceritakan masalahnya kepada kita hanya karena ia ingin punya teman bicara / teman curhat, dan bukan karena ia tidak bersyukur. Bukankah bisa mengungkapkan perasaan itu lebih sehat daripada memendamnya? Maka, mari kita juga sama- sama belajar lebih mengasah empati kita tanpa menghakimi. Selain itu, bantulah jika ia menawarkan bantuan, itu cara terbaik daripada menyalahkan. Itulah tanda kita juga punya empati dan kasih.

Setiap orang punya pergumulannya sendiri, jangan meremehkan tetapi usahakan untuk PEDULI.

*** 

Renungan di atas dibuat atau diambil dari sumber buku renungan online. Kita semua pasti mengerti apa arti kata Empati atau berempati. Empati adalah sebuah sikap atau kemampuan untuk merasakan perasaan, pikiran atau Tindakan orang lain. Atau definisi lainnya adalah menempatkan diri sendiri di posisi orang lain agar bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Ada beberapa contoh yang terjadi di Alkitab yang menggambarkan rasa empati yang dilakukan oleh Tuhan: Dia turut merasakan betapa susahnya si pincang berjalan, betapa terluka hati si kusta karena tertolak, Dia merasakan penderitaan mendalam dari seorang wanita yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun, merasakan betapa sakit dan menderitanya orang yang hanya bisa berbaring di atas kasur;  merasakan betapa hancurnya hati orang buta yang hanya bisa melihat gelap di sepanjang hidupnya.  Alasan-alasan inilah yang membuat Tuhan tidak bisa tinggal diam dan meninggalkan mereka begitu saja.  Empati yang besar menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak. Bagaimana dengan kehidupan sehari – hari kita? 😊

Banyak sekali yang terjadi di kehidupan sehari – hari yang membuat kita turut merasakan prihatin akan penderitaan orang lain. Seperti mendengar berita tentang wabah pandemi Covid-19 yang menimpa korban jiwa sampai meninggal, oranglain yang terdampak masalah ekonomi sampai minta bantuan modal, terdampak sakit penyakit, mengalami penolakan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Apalagi yang menimpa teman- teman disabilitas, yang telah kehilangan pekerjaan, bisnis usaha tidak lancar, terjadi perampasan hak akses, dll. Itulah membuat saya turut berempati. Walau tidak bisa membantu, saya tetap mendoakan mereka dan juga diriku sendiri.

Lalu, bagaimana cara menjadi pribadi yang berempati?

1.       Cerdas untuk mendengar (Jadilah pendengar yang baik) Yakobus 1 : 19

2.       Mengajukan pertanyaan yang baik dan benar (Yang pasti menggunakan Bahasa yang sopan dan tidak kasar) Amsal 10 : 5

3.       Menjadi sahabat yang baik dalam suka ataupun duka.  Roma 12 : 15 

Dengan tiga hal yang untuk menjadi pribadi yang empati tidak akan berhasil kalau kita lakukan dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu, supaya bisa menjadi pribadi yang sungguh-sungguh empati, maka kita harus selalu membuka diri untuk terus diisi oleh kebenaran firman Tuhan, diisi oleh kuasa Allah. “Tangki” hati kita harus selalu diisi oleh kasih Allah karena dengan demikianlah kita dapat menjadi pribadi yang berempati. Hanya ada satu cara Anda akan menjadi yang empati - tetap diisi dengan Allah. Jika tangki Anda mendapat rendah pada Tuhan, Anda tidak akan menjadi empati sama sekali. Anda harus tetap diisi dengan Allah.

Selamat belajar berempati! 😊

Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 07 Desember 2019

WAR ROOM – PRAYER IS A POWERFUL WEAPON


Mungkin kalian ada yang sudah pernah mendengar atau menonton film War Room. Film ini sudah lama ditayangkan pada tahun 2015, yang merupakan film garapan Kendrick Brothers’ setelah film ‘The Facing Giant’. ’Fireproof’ dan ‘Courageous’. Film ini menceritakan tentang nuansa Religi Kristiani. Tetapi, film ini tidak hanya layak ditonton oleh orang Kristen saja, melainkan semua orang yang punya nilai – nilai kemanusiaan (humanisme) juga wajib menontonnya. Mengapa? Karena di balik film tersebut ada beberapa pelajaran dan pesan yang bisa kamu dapatkan lho.

Film War Room yang menggugah cerita tentang Kuasa Doa
Buat kamu yang belum nonton ini, ayo kudu nonton! Film ini menggugah tentang kesadaran orang – orang bahwa kuasa doa bisa mengubah hidup seseorang, seperti karakter, sikap dan perilaku. Tahukah kamu, doa adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Melalui doa, kita bisa mengubah dunia kita menjadi lebih baik, cara pandang terhadap seseorang berubah, menghadapi masalah pun jadi lebih sabar, tidak mudah tersulut emosi. Bahkan dengan kekuatan sebuah doa membuat sesuatu yang mustahil menjadi MUNGKIN. Itulah doa. Doa merupakan komunikasi penting manusia dengan Tuhan. Bagaimana jika tidak disertai dengan doa? Bakal merasa hampa tanpa Tuhan, bukan?
Setiap orang diberi tugas untuk berdoa atau menaikkan doa dengan tujuan adalah berperang melawan musuh agar memperoleh kemenangan. Strategi doa yang kita lakukan bukan untuk melawan “darah” atau “daging” melainkan “penghulu – penghulu di udara” dan berbagai persoalan atau pergumulan yang dihadapi. Seperti masalah keuangan, keluarga yang memiliki perbedaan prinsip atau tujuan hidup, rumah tangga, masa depan, sakit – penyakit atau pasangan hidup. Meskipun setiap orang memiliki kasus yang berbeda tidak seperti pada film War Room yang telah kita tonton.
Film War Room bercerita tentang kehidupan keluarga Tony dan Liz sebagai suami istri dan beranak satu perempuan, Danielle. Mereka awalnya sukses dalam berkarier. Namun, bukan cuma pekerjaan yang mapan, apalagi memiliki rumah yang bagus saja. Sesungguhnya, kehidupan mereka berada di ambang kehancuran dalam hal pernikahan dan perjuangan dalam melewati setiap kesulitan.
Hal tersebut terjadi disebabkan oleh ketidakpercayaan telah mempengaruhi mereka berdua hingga menimbulkan ketidaksetiaan meracuni hati Tony dalam kegelapan. Sementara itu, perasaan marah, kepahitan, dan kebencian telah merasuki hati dan pikiran Liz.
Keputusasaan yang dialami Liz akibat masalah tersebut, namun dirinya tidak berpangku tangan saja. Dia memutuskan berjumpa dengan seorang Janda tua, Oma Clara, yang memiliki pikiran yang aneh. Pertemuan mereka berdua yang tidak disangka akhirnya berhasil mengantarkan iman yang menakjubkan dan membuahkan kesuksesan dalam kehidupan keluarga Tony dan Liz. Melalui cara yang aneh dilakukan oleh Oma Clara, yang dia sebut adalah “Strategi Doa Melawan Iblis”.

“Musuhmu adalah bukan suamimu, tetapi iblis. Serahkan saja semuanya kepada Tuhan.”
– Oma Clara –

Pada akhirnya Liz memutuskan strategi baru sesuai surveinya di rumah Oma Clara yang memiliki ruang pertempuran (War Room) dengan mengosongkan lemari pakaian dan mengubahnya menjadi ruang doa, tempat berkomunikasi dengan Tuhan, tempat untuk berperang melawan iblis, dan satu hal yang tidak pernah dilupakan adalah mencatat setiap pokok doanya.

Membuat Sebuah Pokok Doa
Meskipun cara yang diajarkan oleh Oma Clara tidak mudah bagi Liz, namun dia tidak menyerah pada strateginya. Meskipun juga imannya kadang naik kadang turun, dia tetap berusaha pada strateginya yaitu berdoa, bertempur melawan iblis demi pernikahan dan kehidupan keluarga serta karier bersama

"Tetapi, jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" – Matius 6:6.

Percayalah bahwa cara seperti ini mungkin bisa dianggap benar. Kamu bisa mencobanya di rumah dengan mencari ruang kosong sebagai ruang doa. Namun, poin terpenting adalah tetap mempercayai bahwa Tuhan itu ada untuk kita. Dia tidak akan meninggalkan kita sendiri, saat kita sedang dalam masalah entah pergumulan hidup yang dihadapi dan harus diperjuangkan. Maka, dengan bersama Tuhan kita akan memperoleh kemenangan setelah berjuang melawan iblis. Seperti di dalam kisah film War Room, Liz akhirnya menyadari bahwa Dia itu ada bagi kita, Dia membela Oma Clara bersukaria di balik kesusahannya karena Tuhan kembali memberi kemenangan bagi setiap orang yang mencari wajahNya.

“Jika kau menginginkan kemenangan, kau harus menyerah lebih dulu. Ketika kita menyerah, Tuhan adalah pembela yang baik. Ia akan membela anak-anakNya yang berjalan sesuai dengan firmanNya. Jangan menjadikan suami kita sebagai musuh karena musuh yang sesungguhnya adalah iblis. Iblis ingin menghancurkan pernikahan kita dan iblis senang jika suami istri bertengkar. Maka, berperanglah melawan iblis dalam doa demi keselamatan pernikahanmu. Jangan biarkan iblis mencuri kebahagiaan kita.” – Oma Clara –

Nah, di balik film War Room ada beberapa pesan yang dapat kita petik. Terutama kamu dapat belajar tentang: Bagaimana sih  cara agar sabar dalam menghadapi persoalan, tetap berbuat baik sama orang lain walau orang itu sudah jahat sama kita? Bagaimana mengasihi pasangan dan mau memaafkan dengan tulus terhadap pasangan yang sudah menyakiti hati kita? Bagaimana pula agar hubungan pernikahan tetap harmonis hingga akhir hayatnya? Bagaimana agar bisa sukses dalam berkarier dan berbisnis? Dan banyak lagi yang dapat kita lakukan dengan berdoa dan berserah kepada Tuhan.


Thank God for Your chance to me for a few days ago. Here is my story.

Pada beberapa hari yang lalu saya berkesempatan menonton film War Room. Saya tidak pernah lupa akan jalan cerita dari film itu yang sudah pernah ditonton sejak dari kapan. Sekarang sudah kedua kalinya bagiku. Film ini benar – benar bagus, sangat menghibur dan menginspirasi hati kamu, terutama teman – teman yang punya pergumulan hidup dan mencari cara untuk bertempur melawan iblis. Setelah menonton film tersebut dalam waktu 2 jam, ternyata film ini mengingatkan saya akan banyak hal, termasuk tentang seseorang dan masa lalu. Tetapi bukan cuma satu orang saja, melainkan ada banyak orang yang ingin kudoakan.
Sejak sebelum menonton film tersebut untuk kedua kalinya, beberapa waktu lalu saya pernah sekali menulis secarik kertas tentang pokok doa yang ingin kudoakan terus menempelkannya di sebuah papan pokok doa bahkan juga pernah memasukkannya ke kotak pokok doa di gereja (di Remaja dan di Pemuda dulu). Di rumah juga biasanya pernah kulakukan, seperti biasa menulis secarik kertas pokok doa lalu menempelkannya di mana saya sudah lupa. Bahkan juga menyimpannya di balik buku catatan hingga hilang. Namun, saya tidak pernah lupa tentang pokok doa yang telah kutulis hingga sekarang. Ada banyak pokok doa yang telah saya tulis hingga tidak sempat saya tulis (malah pernah menulis status berupa doa di media sosial walaupun jarang), mulai dari tentang keluarga, pekerjaan yang belum didapati, masa depanku, pasangan hidup hingga keuangan. Saya tidak ingin berharap pokok doaku akan dibaca sama teman gereja atau majelis jemaat gerejaku. Meskipun mereka tahu saya sedang dalam pergumulan hidup hingga pernah didatangi oleh mereka ke rumahku untuk melawat dan mendoakan.
Setelah menonton film tersebut, saya pun teringat kembali tentang masalah yang tidak bisa saya lupakan setelah pokok doa tersebut beberapa waktu lalu. Saat menonton filmnya saya berusaha memendam perasaanku yang kecewa tentang seseorang teman, yang tidak bisa saya sebut namanya yang sengaja menyakitiku karena suatu hal. Saya tahu ini semua karena salah saya. Saya berdoa dan memilih melepaskan pengampunanku kepada Tuhan dan juga kepada temanku. Saya pasti sedih dan takut jika something will happen to him padahal dia hanyalah temanku dan belum apa – apa juga. Saya tetap berdoa setelah kejadian tersebut hingga sekarang. Walaupun masih belum membuahkan hasil juga termasuk hubungan saya dan dia masih belum baikan. Sejak itu, sama seperti pada film War Room yang saya tonton, saya memutuskan mencari teman curhat dan timbullah yang ada di pikiranku adalah teman gerejaku yang orangnya baik dan paham tentang masalahku dengan teman selain tentang pekerjaan dan lainnya. Pertemuan saya dengan dia mulai dari chat WA, Video Call hingga bertemu secara langsung di rumahnya benar - benar merupakan momen yang tidak terlupakan bagiku. Dia selalu hadir menghibur dan mendoakan saat aku sedang sedih dan kecewa.
Tetiba di balik bisikan doaku dari Tuhan : “Sabarlah, Nak. Semua bukan salahmu. Sebetulnya bukan salahmu ataupun dia. Tetapi, iblislah yang melakukannya hingga mempengaruhi pikiran dan menyebabkan masalah. Itulah yang terjadi padamu. Serahkan saja kepada-Ku. Tuhan sudah melepaskan pengampunan untuk kamu. Tunggu waktunya ya, Nak.” Saya masih bisa menjawab bisikanNya, “Tuhan, saya serahkan semuanya kepadaMu. Semoga kiranya Engkau bisa mengampuniku dan dia, melembutkan hatinya dan bisa berbaikan denganku sebagai teman seperti teman – teman lainnya. Dengan tidak menyakitiku dan teman – teman lainnya karena keterbatasan fisik sepertiku. Saya tidak akan membiarkan dia terkungkung dengan cara seperti ini merugikan orang lain karena aku. Amin.” Setiap hari saya berdoa, tidak pernah berhenti menyebut nama orang – orang yang tidak bisa saya lupakan, termasuk keluargaku juga.  Sejak setelah itu, saya berusaha untuk menenangkan hati dan pikiran seolah semua akan baik - baik saja. Tetap berpikir positif sih sudah seharusnya, meskipun dia masih berubah sikapnya terhadapku dari biasanya. Padahal masih sempat berpapasan dengannya. Dan pada akhirnya saya memilih diam hingga waktunya bagi dia untuk berbaikan kembali denganku.
Berdoa setiap hari, berjam – jam saya biasa lakukan di rumah, bahkan di kantor pun saya bermeditasi dan berdoa sebelum mulai bekerja. Saya memohon kehadiran Tuhan di dalam doaku dan juga untuk pergumulan hidupku agar imanku tetap kuat dalam bertempur melawan iblis. Teringat akan film tersebut, saya kembali memulai mencoba menulis secarik kertas tentang permohonan doa dan menempelkan di dinding walaupun saya tidak punya ruang kosong.
Mungkin orang – orang kadang tidak percaya akan kuasa doa yang disampaikan Tuhan melalui orang yang berdoa. Jangan ragu untuk berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan. Seperti ayat Matius 6 : 6 merupakan pesan penting untuk kita semua yang mau berdoa. Carilah tempat yang sepi, seperti di kamar sendiri lalu tutup pintunya dan mulai berdoa.

So, this is the end of my story. Semoga kamu mungkin teman Dengar atau teman Tuli siapapun yang sedang berada di ambang kehancuran, kepahitan, keputusasaan hingga mulai bergumul kepada Tuhan. Kamu dapat memulai waktumu dengan berdoa dan berkomunikasi dengan Tuhan. Atau dapat memulai waktu untuk mencari ruang kosong sebagai tempat pertempuran doa.


“Prayer is what opens up the floodgates for God to come down and He involved in our everyday cicrcumstances.”
(Doa adalah yang membuka pintu air bagi Allah untuk turun dan Dia terlibat dalam situasi sehari-hari kita.)

Rabu, 04 September 2019

AFTER MORE THAN A YEAR…. I WRITE AGAIN



Hello Sahabat Blogger-nya @evchristy!
Apa kabar kalian semua? Sehat kan? Hopefully you are more healthy and more prosperous. 😊

Hello, I am back after more than a year
Setelah setahun lebih saya tidak menulis blog dikarenakan sibuk dengan beberapa kegiatan yang terlupakan bahkan itu sudah lama sekali. Saat itu, banyak orang pernah sekali bertanya- tanya kepadaku, seperti: ‘Kok sudah ga nulis blog lagi?’. ‘Ayo nulis blog lagi. Gw mau denger cerita tentang lo.’, dll. Sejuta pertanyaan yang suka diajukan orang- orang hingga ajakan untuk menulis lagi ini membuatku tidak bisa lupa. Apalagi menulis renungan untuk dimuat di Warta Jemaat gereja dan juga di situs web WarungSateKamu yang tidak terlupakan hingga tahun kemarin sebelum mulai bekerja.

Sejak itu aku lupa sama blognya sendiri hingga sekarang dan akhirnya teringat kembali. Bukan karena apa dan oleh siapa yang membuat aku diingatkan untuk menulis lagi setelah sibuk dengan pekerjaan. Aku kembali menulis lagi setelah setahun lebih.

Bukan berarti aku tidak meninggalkan apalagi menghapus akun blogger yang sudah lama kupunyai dari sejak tahun 2011 ya. Aku ingin membuat semua tulisan ini menjadi kenangan nanti di saat aku sudah tua, pasti akan dibaca kembali sambil mengenang masa- masanya.

Teman- teman siapapun yang punya hobi menulis seperti saya pasti ada keinginan menulis, menceritakan pengalaman yang tidak terlupakan selama bersama orang- orang tercinta mulai dari menyenangkan hingga menyakitkan, mengungkapkan perasaan dalam bentuk puisi. Begitu pun untuk yang hobi membaca cerita di blog pasti selalu menyempatkan waktu membaca buku, mulai dari cerita bergambar hingga tulisan- tulisan. Kalau buat yang tidak suka menulis apalagi membaca sih urusan masing- masing, bukan suatu paksaan.

Syukur kepada Tuhan… Oleh karena Dia membuatku teringat kembali tentang blog yang telah lama aku tinggalkan. Sebetulnya aku tidak ingat kapan terakhir aku pernah menulis sebuah tulisan artikel untuk dimuat di Warungsatekamu. Aku mungkin sudah lupa untuk mau memuat kembali tulisan yang sudah dipublish di WarungSateKamu ke blogger pribadi. Semoga ada satu cerita yang mungkin tertinggal di WarungSateKamu adalah hasil tulisan aku entah nama aku sendiri atau nama samaran ditemukan kembali.


Begini ceritanya pada tahun lalu sebelum mendapat pekerjaan… Aku ada niat menulis sebuah artikel lagi setelah mendapat update info dari Warungsatekamu lewat email. Tentang apa yah aku sudah lupa? Sudah benar- benar menulis sembari mencari pekerjaan, saat itu disibukkan dengan pekerjaan lain di rumah dan juga kegiatan di gereja. Tulisanku baru setengah jalan. Berdoa dan bekerja di dalam Tuhan yang tidak henti- hentinya. Setelah mendapat kabar dari salah seorang teman magangku yang Tunarungu / Tuli seperti aku tentang lowongan pekerjaan, dengan penuh paksaan agar aku melamar. Tanpa kuragu, aku melamarnya via email entah ke mana sambil berdoa semoga ini merupakan kesempatan terakhir untukku. Kalau belum, ‘ku teruskan menulis lagi tentang pergumulan hidup.

Tak lama kemudian setelah beberapa lamaran pekerjaan ku lakukan dalam hampir 2 tahun ditolak karena aku difabel Tunarungu / Tuli. Mengalami diskriminasi dalam kesempatan mendapat pekerjaan memang tidak menyenangkan. Bukan Cuma aku saja, teman- teman difabel lainnya, termasuk Tunarungu pasti mengalaminya. Aku tahu mereka seperti aku tidak menyerah dalam mencari pekerjaan, sudah kayak mencari jodoh yang tidak kunjung dapat. Setelah 2 tahun penantiannya, aku mendapat kabar melalui chat WA dari teman yang tidak kukenal kalau aku disuruh datang interview pekerjaan di salah satu kantor. Awalnya. agak meragukan karena aku merasa takut usahaku sia- sia jika tidak diterima bekerja.


Dan ……… Akhirnya Tuhan menjawab dengan jawaban terbaik untukku. Aku juga tidak lupa berterima kasih sama teman magangku atas info lokernya. Aku tidak henti- hentinya bersyukur kepada Tuhan. Sejak itu, tulisan terakhir kemarin untuk WarungSateKamu yang masih setengah jalan akhirnya terhenti.


Menanti selama setahun lebih rasanya lama sekali hingga aku melupakan blognya sendiri. Begitu kubuka blognya jadi teringat kembali apa yang sudah kulakukan selama ini.

Semoga akan ada kelanjutan cerita yang ingin kutulis di sini sembari memberikan poin- poin positif untuk pembaca blognya @evchristy nanti. Tunggu kisah selanjutnya ya!

Tuhan Yesus memberkati. 😊

Kamis, 14 Desember 2017

PUISIKU : MENUNGGU KADO TERINDAH DARI TUHAN


Hi Readers,
I am back to writing again...

Dan inilah sebuah puisi yang saya buat untuk hari ulangtahunku pada tanggal 13 Desember (kemarin) dan saya mempostingnya pada hari ini sebagai renungan buat kalian semua..

Mengapa saya menulis puisi tentang ini?

Setelah saya merenungkan banyak hal selama 27 tahun ini, saya sadar kalau saya ini jarang bertemu dengan orang- orang yang kuingin saya temui apalagi pergi jalan. Boleh saja kalian menganggap saya orangnya kuper atau kurang pergaulan atau sombong, saya menerimanya baik- baik. Saya tidak bermaksud tidak mau bergaul dengan siapa. Mungkin karena dengan alasan tertentu atau karena sesuatu yang membuat saya atau kalian kadang- kadang merasa tidak nyaman.

Saya bersyukur bisa mengenal kalian sampai sejauh ini tanpa berpikir mau dibawa ke mana hubungan kita ini. Bahkan saya juga menyadari, kalau saya jarang memberi sesuatu yang terbaik seperti dalam hal memberi surprise atau kejutan untuk seorang yang berulangtahun atau perayaan lain. Tetapi saya tidak memberi sesuatu dalam bentuk apa pun sesuai yang kalian inginkan, saya memberi sesuatu yang bersifat simple dalam bentuk kado dengan harapan agar kalian tetap bahagia selamanya. Itu saja. Saya juga menyadari bahwa saya jarang diberi surprise ulangtahun apalagi dikasih kado oleh orang- orang, tidak seperti kalian yang bisa memberi surprise ke satu sama lain yang berulangtahun pada hari H ulangtahun dan jam tengah malam ke rumahnya atau ke mana, sampai minta ditraktir agar diberi semangat dan hanya untuk kesenangan diri. Saya tidak ingin membandingkan diri saya dengan kalian, saya menerimanya baik- baik. Walaupun setiap setahun sekali saya pernah kepengen begitu seperti kalian. Tetapi, saya memilih tidak meminta semuanya. Saya memilih memberi kado untuk seorang yang berulangtahun. :)

Please enjoy my poem here and have a nice day..

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Tuhan,,,
Terkadang setiap orang bertanya
Kepada seorang sahabat yang berulang tahun...

Wahai sahabat,
Mau kado apa?
Mendengarnya membuatku termenung...

Aku sungguh tidak tahu..
Dalam hidupku banyak
Yang kudamba,
Namun tak jua tercapai…

Tuhan…
Aku ingin kado
Tetapi bukanlah sebuah kado
Dari orang-orang...

Yang aku inginkan
Hanyalah memberikan kado
Kepada sahabat
Dengan penuh kasih tulus…

Yang aku inginkan
 Hanyalah kado terindah dari Tuhan
Berupa doa dan harapan
Yang mampu menjadikan diriku
'tuk menjadi seorang yang Engkau inginkan…

(Karya: Evant Christina)

Selasa, 28 November 2017

Renunganku : PEOPLE COME AND PEOPLE GO


Holla Readers,
I hope you are very fine.
This is my third renungan for Warta Jemaat GKI Kayu Putih which it was published on November 19th 2017 (2 weeks ago) and I save and post it on my personal blog as my own memories and also for readers who feel missed my story (renunganku).

Please read my third renungan here. Thank you. J




“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
(Pengkhotbah 3 : 1)

“People come and people go, just like the wind blows” (orang datang dan orang pergi, sama seperti angin bertiup). Kata-kata seperti ini mengingatkan saya akan banyak hal beberapa tahun terakhir ini. Di hidup kita ini banyak kejadian datang dan pergi dengan beberapa alasan yang mungkin di antaranya adalah menjalani hari-hari bersama pasangan hidup, pindah kerja ke luar kota atau ke luar negeri, pindah komunitas baru, keinginan untuk menimba ilmu baru (studi lanjut), dan lain-lain.
Dalam hidup ini, saya pun mengalami perubahan-perubahan. Beberapa tahun yang lalu, saya adalah personalia Komisi Pemuda GKI Kayu Putih. Kemudian saya mengakhiri pelayanan saya di sana. Perubahan juga terjadi di Komisi Pemuda. Ada banyak anggota yang baru, sementara beberapa teman lama pun mulai pindah ke luar kota karena pindah pekerjaan, sekolah atau menikah. Saya ingin sekali mengulang masa-masa indah bersama mereka, tetapi saya sadar bahwa hal itu tidak mungkin terjadi lagi. Perubahan juga terjadi untuk peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Misalnya saja, saya kehilangan dua orang tercinta. Pertama, adik dari mama saya yang meninggal pada tahun lalu; kedua, omaku dari papa saya baru saja meninggal sebulan yang lalu.
Istilah people come and people go, just like the wind blows digambarkan oleh Pengkhotbah di pasal 3. Dia mengingatkan bahwa segala sesuatu ada masanya. Perubahan, menurut Pengkhotbah, adalah proses hidup yang natural. Di dalam perubahan, dia menyatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Perpisahan dengan kawan karib, dan perjumpaan dengan kawan baru menjadi proses keindahan hidup yang Tuhan anugerahkan. Di dalam perubahan itu, Pengkhotbah percaya ada kehadiran Tuhan yang menciptakan waktu dan peristiwa.
Saya belajar dari perubahan. Di dunia ini tidak ada yang tetap, hanya perubahanlah yang tetap terjadi dari masa ke masa. Kita tidak bisa menolak dan menghindar dari perubahan, namun kita diajak untuk menerima dan merespons perubahan dengan positif. Tidak selalu perubahan itu menghasilkan hal yang baik dan menyenangkan; bahkan kadang perubahan membuat kita terkejut dan takut. Namun, saat saya sadar perubahan itu tetap adanya, maka saya pun percaya bahwa Tuhan ada di dalam setiap perubahan hidup ini. Marilah kita terus belajar dari perubahan dan memaknai setiap kejadian dengan cara yang positif.


(Evant Christina)


Sebelum saya menulis renungan dengan topik itu untuk dimuat di Warta Jemaat, saya suka kepikiran tidak mau menulis tentang ini karena saya takut jadi bahan omongan dari orang- orang. Padahal saya hanya ingin menjadi berkat bagi banyak orang lewat tulisan dan juga saya rindu untuk mengajak orang- orang yang sudah lama tidak kelihatan untuk berkumpul dan melayani bareng... 

Dan so, saya tetap mendoakan yang terbaik untuk mereka satu- persatu kusebutkan yang sudah jarang main di gereja tempat saya bertumbuh dan juga orang- orang yang mengenalku maupun tidak....

Thank you for reading and wait for my next story ya.
God Bless you!

Artikelku Untuk WarungSaTeKamu : SATU HAL YANG TERLUPAKAN KETIKA SEMUA IMPIANKU TIDAK TERCAPAI


Haii Readers,
I am back after a few weeks not writing..

This is my second writing for WarungSaTeKamu web which it was published on October 16th 2017 (a month ago). I post it on my personal blog for my own memories and also for readers who feel missed this article from me. And here is my writing, please read.


Setiap orang boleh memiliki keinginan dan cita-cita. Tetapi, pada kenyataannya, terlepas dari sekeras apapun upaya kita untuk mewujudkannya, tidak semua yang kita harapkan bisa terjadi sesuai keinginan kita. Inilah realita kehidupan. Pernahkah kamu mengalaminya? Aku pernah.

Sebagai seorang perempuan yang dilahirkan dalam keadaan tunarungu, saat memasuki masa-masa TK, kedua orangtuaku menyekolahkanku di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sana aku pernah diberi tugas untuk membuat buku harian oleh guruku. Setiap hari, sepulang sekolah aku menuliskan cerita-cerita, kemudian mengumpulkannya kepada guruku keesokan harinya. Bermula dari sekadar tugas, lama-kelamaan menulis menjadi kegemaranku, hingga aku pun bercita-cita kelak ingin menjadi seorang penulis.

Beberapa tahun setelahnya, kedua orangtuaku memindahkanku ke sebuah sekolah umum. Saat duduk di bangku SMP, aku melihat kalau ternyata teman-temanku punya cita-cita yang beragam. Ada yang ingin menjadi seorang dokter, pilot, perawat, pengusaha, juga cita-cita lainnya. Karena saat itu aku belum pernah mendengar ada seorang penyandang tunarungu yang menekuni profesi-profesi tersebut, aku jadi tertantang untuk memiliki cita-cita seperti mereka, profesi yang biasa dilakoni oleh orang-orang yang kondisi fisiknya sempurna. Waktu itu aku bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta, psikolog, desainer grafis, bahkan juga seorang chef.

Menjelang kelulusan SMA, aku bergumul tentang rencana mau melanjutkan kuliah ke mana. Aku berdoa pada Tuhan dan juga bertanya kepada orangtuaku tentang pilihan apa yang harus kuambil. Waktu itu orangtuaku menyarankan agar aku tidak memilih tempat kuliah dengan lokasi yang lokasinya jauh dari rumah. Saat itu aku berbicara jujur pada ibuku tentang cita-citaku dan rencana kuliah. Namun, jawaban ibuku membuatku kecewa.

“Wah kalau kamu menjadi pendeta rasanya mustahil sekali. Apakah kamu bisa? Kamu kan tuli. Bagaimana kalau sampai kamu salah dalam sharing atau ngomong yang tidak jelas malah membuat orang- orang tidak mengerti atau malah tertawa? Untuk psikologi rasanya kamu tidak akan bisa…bla bla bla…. Ibu juga takut dan khawatir jika terjadi sesuatu apa- apa dengan kamu selama kuliah nanti, nak.” Kemudian ibuku memberikan jawaban lain yang cukup panjang.

Ibuku tidak setuju dengan pilihan cita-cita yang kuinginkan sedangkan ayahku hanya diam saja seolah tidak peduli, sehingga sejak saat itu aku merasa segala impian yang kucita-citakan pun kandas. Kemudian ayahku menyarankanku untuk kuliah di jurusan Ilmu Komputer saja karena menurutnya prospek karier di jurusan ini bagus. Aku pun menuruti saran ayahku dan mengambil jurusan Teknik Informatika. Sepanjang waktu studiku selama empat tahun, aku berjuang dengan keras supaya bisa mendapatkan nilai yang baik dan juga lulus sebagai Sarjana. Namun, karena jurusan yang kuambil bukanlah jurusan yang benar-benar kuinginkan, semangatku dalam kuliah sering naik turun. Ketika semangatku turun, sebuah ayat dari Yeremia 29:11 selalu menjadi pengingat dan memberiku kekuatan. Ya, aku percaya bahwa Tuhan akan memberiku masa depan yang penuh harapan.

Setelah aku dinyatakan lulus sebagai seorang Sarjana, seperti para fresh graduate lainnya aku pun mencari informasi lowongan pekerjaan baik melalui media sosial ataupun informasi dari orang-orang. Lamaran sudah kumasukkan melalui berbagai situs penyedia jasa lowongan pekerjaan. Tetapi, semuanya nihil. Padahal setelah aku cermati, tidak ada yang salah dengan CV-ku. Lalu, aku juga tidak lupa dengan waktu teduh, selalu berdoa dan bekerja (ora et labora) serta memohon hikmat pada Tuhan supaya ada perusahaan yang mau menerima penyandang tunarungu. Selain itu, aku juga sering bertanya kepada teman- teman tentang informasi pekerjaan, sembari meminta saran dari mereka untuk mencoba kerja di kantor lama tempat aku magang dulu. Tetapi apalah dayaku ternyata hasilnya sama.

Satu bulan, dua bulan, hingga setahun berlalu tanpa ada kejelasan. Semua perusahaan yang meresponsku hanya memberikan harapan palsu. Ceritanya, setelah mengikuti interviewuntuk keempat kalinya di perusahaan yang berbeda, katanya aku akan dikabari lebih lanjut melalui e-mail. Tapi, sekian lama menanti, tak kunjung ada e-mail yang kuterima. Aku menjadi bingung, putus asa, dan juga berprasangka buruk. Apakah mungkin karena keadaan disabilitasku yang membuat perusahaan-perusahaan jadi tidak mau menerimaku bekerja? Atau, apakah karena posisi yang kuambil tidak sesuai dengan jurusan kuliahku dulu?

Sampai di titik ini aku merasa ini adalah momen terendahku sebagai seorang pencari kerja selama setahun. Aku merasa kecewa dan putus asa, bahkan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku merasa bahwa semua yang telah kulakukan itu sia-sia sehingga akhirnya aku berhenti untuk mencari pekerjaan.

Sebuah pelajaran dari kegagalan dan impian yang kandas

Di balik momen-momen sulitku sebagai seorang pencari kerja, aku sadar bahwa aku tidak bisa hanya sekadar berpangku tangan. Bagaimanapun juga aku harus memiliki penghasilan sendiri. Aku mulai mencari cara-cara lain. Jika aku tidak bisa menemukan perusahaan yang bisa memberiku pekerjaan, maka aku bisa menciptakan pekerjaan untuk diriku sendiri. Sejak saat itu, aku mencoba memulai usaha kecil-kecilan dengan berjualan pulsa elektronik. Hasil dari jualan ini memang tidaklah seberapa, akan tetapi aku percaya bahwa ini adalah langkah terbaik untukku belajar memulai usaha dari nol.

Selain berjualan pulsa, aku juga membantu melanjutkan usaha bersama keluargaku di rumah. Walaupun aku tidak menyukai pekerjaan itu karena aku cukup kesulitan untuk berkomunikasi terhadap pembeli, tetapi aku coba menikmatinya sebagaimana mestinya saat mengingat betapa beratnya hidupku. Aku bersyukur karena keluargaku dan beberapa orang pembeli tersebut mengenalku dengan baik dan mereka akhirnya memahami keadaanku.

Sebelumnya itu, aku juga pernah berencana mencoba bisnis online yaitu mempromosikan sebuah produk melalui media sosial berdasarkan permintaan dari beberapa temanku. Tetapi, setelah aku berunding dengan ibuku tentang bisnis online ternyata tidak mendapat persetujuan dari ibuku dengan beberapa alasan yang membuatku kecewa. Padahal itu satu-satunya cara terbaik untuk mendapat penghasilan. Aku pun sedih, putus asa, dan tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar hal tersebut.

Ketika aku mengingat kembali momen-momen terendah dalam hidupku, kadang aku merasa kalau diriku itu bodoh dan kacau. Bahkan, dulu aku sempat bertanya kepada Tuhan: Mengapa aku selalu gagal? Apakah karena imanku kurang? Saat itu aku hanya berfokus pada kegagalan demi kegagalan. Aku berfokus pada impianku yang kandas hingga aku melupakan satu hal yang teramat penting: Tuhan tetap berlaku baik. Kasih setia-Nya tidak berkesudahan dan rahmat-Nya tak pernah habis (Ratapan 3:22).

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang sulit dimengerti, termasuk mengapa Dia mengizinkanku dilahirkan dalam keadaan tuli, mengalami banyak kegagalan, dan seolah membiarkan setiap impianku kandas. Tetapi, satu hal yang aku tahu dengan pasti bahwa Tuhan itu baik bukan hanya karena dia memberikanku kesuksesan, tetapi karena Dia memang baik. Tuhan mengasihiku bukan hanya karena Dia memberiku berkat, tetapi karena Dia adalah kasih. Seperti Ayub yang mengakui kebesaran Tuhan, aku pun yakin bahwa karena Dia adalah Tuhan yang Mahabesar, maka tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya. “Aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).

Aku tidak menyesal karena telah gagal berkali-kali. Aku juga tidak menyesal karena impian-impian yang kudambakan sejak dahulu pada akhirnya tidak terwujud. Aku percaya bahwa hidupku itu ibarat pensil dan kertas. Aku bisa menuliskan banyak keinginanku di atas kertas itu. Tetapi, aku tidak boleh lupa bahwa Tuhan memiliki alat tulis yang lebih lengkap. Ketika ada keinginanku yang tidak baik, Dia bisa menghapusnya dan menuliskan yang lebih baik dan tentunya terbaik untukku.

Aku percaya bahwa pekerjaan sederhana yang aku kerjakan saat ini adalah kesempatan berharga yang Tuhan berikan kepadaku. Ketika aku melakukannya dengan setia dan bertanggung jawab, aku yakin bahwa kelak Tuhan akan memberiku tanggung jawab yang lebih besar.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”
 (Roma 8:28).


Thank you readers and lets wait for the next article from me ya.
God Bless you!