impian

Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Desember 2023

KETIKA IMPIANKU BERAKHIR KANDAS, DENGARKAN KISAHKU SELAMA 2 TAHUN BEKERJA


Halo!

Kembali lagi di blog saya.. 👋


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia di blog ini. Hari ini saya mau membagikan artikel baru. Sebenarnya saya sudah lama menulis artikel ini di tahun 2020, di mana saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan tentang pekerjaan yang sudah dijalani selama 2 tahun sebelum COVID-19 merebak. Dan juga, artikel ini saya tulis untuk dimuat di salah situs website rahasia, tulisan ini dibuat secara singkat dan padat tidak sampai mendetail. Jadi, saya langsung merombak jadi cerita yang sebenarnya.


Saya akan mengucapkan terima kasih kepada kalian yang kenal maupun tidak kenal saya, karena sudah membaca blog terutama pada kisah saya.


Here is my story, hopefully you enjoy my story.

—----------------------------------------------------------


“Akan bersyukur kalau sudah mendapat pekerjaan, atau perusahaan sudah mau menerima teman disabilitas bekerja setelah mempercayai kemampuannya.” pikir orang- orang. 


Namun, apa yang aku pikirkan kurasa belum yakin karena mencari pekerjaan untuk teman- teman disabilitas itu tidak mudaaahh…. 😢 Kenapa? Karena tidak semua perusahaan itu inklusif alias belum sepenuhnya menghargai atau menerima teman dengan disabilitas, dan masih menganggap rendah terhadap mereka.


Sama seperti aku juga. Meski terlahir dengan kondisi Tuli, itu tidak menyurutkan semangatku untuk menggapai sukses dalam karir. Aku memiliki beberapa teman yang mengalami Tuli sepertiku yang juga sedang berjuang meniti kariernya. Kisah pekerjaanku dimulai pada pertengahan Juli 2018, ketika seorang teman Tuli sepertiku mengirimkan informasi lowongan kerja posisi di bidang Sosial Media di daerah Sunter, Jakarta Utara kepadaku melalui WhatsApp chat. 


Berawal dari keraguan, aku langsung melamar dan menunggu panggilan interview. Eh… Setelah melewati proses rekrutmen, aku diterima bekerja di sana. 


Dan perjalananku bekerja dimulai…..


Dengan penuh semangat, ku bangun pagi, siap- siap dengan pakaian kemeja dan celana formal, sarapan dan berangkat diantar oleh bokapku. Walaupun jarak dari rumah ke kantor tidak begitu jauh, hanya membutuhkan 15-20 menit untuk tiba di kantor. Setiba di kantor sebelum jam kerja dimulai jam 08.30, aku sudah dipersilakan duduk di meja baru oleh salah satu rekan kerja, dan tidak lupa juga berkenalan dengan rekan- rekan barunya sembari dengan jalan memutar dari satu divisi ke divisi lainnya hingga selesai.

Ora Et Labora Sebelum Bekerja


Setiap hari, sejak awal aku masuk sebagai karyawan baru, sudah absen dengan fingerprint, masuk ke ruangan divisi, aku tidak lupa memulai dengan doa sebelum bekerja dan terus memohon hikmat dari Tuhan agar segalanya dipermudahkan. Selama tiga bulan masa training, aku mempelajari semua produk obat tradisional Tiongkok untuk nantinya membuat konten di media sosial yang berisi informasi kesehatan yang berkaitan dengan produk obat tersebut. Setelah konten diunggah, aku perlu melakukan monitoring terhadap bagaimana performa konten tersebut. 

Bersyukur kepada Tuhan tidak hanya di pekerjaan saja, aku juga senang karena mereka mau berbaur denganku, meskipun aku Tuli. Awalnya aku ragu dan takut tidak diterima atau tidak dianggap. Aku juga berpikir bahwa tidak mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja di mana ada teman- teman dengar, karena butuh waktu. Namun, Puji Tuhan, mereka semua baik dan menyenangkan. Meskipun sejujurnya aku tidak tahu latar belakang dan budaya mereka bagaimana, aku tetap menghargai siapapun mereka. Seperti berbagi makanan, ngajak ngobrol, nongkrong, acara hari raya, apalagi sudah aku lakukan dengan mereka.


Balik lagi dengan pekerjaan, aku tetap semangat cari ide konten yang berkaitan dengan produk obat. Mulai dari desain konten hingga copywriting setiap hari, ngasih hasil kontennya ke atasan. ‘Sudah oke, belum?’ , ‘Sudah oke. Boleh dipost.’, ‘Aku cek dulu’, ‘Sudah ya. Silakan direvisi.’, blablablaa…. Begitu percakapan dari aku ke atasan saat berurusan dengan konten sebelum dipost di media sosial. Sejujurnya, aku belum terbiasa dengan rutinitas pekerjaanku mungkin karena aku baru memulai kali. 


Aku ingat janji Tuhan dalam Yesaya 41:3, bahwa Tuhanlah yang memegang tanganku dan menopangku. Yang perlu kulakukan hanyalah percaya dan tidak takut.


Isaiah 41 : 3 KJV


Ketika Segala Sesuatu Tidak Sesuai Dengan Ekspektasi


“Bermimpi besarlah. Bekerja keraslah, berdoalah, tetaplah berpikiran positif dan yakinlah bahwa mimpimu pasti akan terwujud.” Sebuah kalimat ini tidak pernah lepas dari benakku sejak aku sudah lama menjalani pekerjaan di kantor hingga 1 tahun lebih, tepatnya hingga tahun 2019. Puji Tuhan semua karena anugerahMu, aku bisa melewati setiap tantangan dalam pekerjaan dan juga memiliki seorang teman baik yang paling mengerti setiap kekuranganku. Selain itu, Tuhan ingin aku bisa berbaur dengan teman se-divisiku dan teman – teman divisi lainnya. Dan ternyata…. 


Setelah 1 tahun setengah lebih, aku tidak menyadari jika ada yang mengganjal di hatiku. Jangankan tentang pekerjaan saja, lingkungan kantor menjadi berbeda dari biasanya. Tetiba aku mendapat perlakuan kurang menyenangkan gara- gara kasus dari salah satu teman dari divisi lainnya. Ditambah ada yang mendadak jutek dan cuek bebek dari biasanya alias tidak ada yang mengajak ngobrol. Itulah membuatku terheran- heran. ‘Apakah mereka sibuk atau mereka hanya sudah lupa sama aku?’


Aku tidak tahu kesalahan atau triggernya di mana yang menyebabkan hal itu terjadi. Aku tetap berpikir positif dan sabar selama bekerja.


‘Apakah yang aku berikan dan apa yang aku kerjakan sudah berdampak bagi perusahaan?’ dalam hatiku bertanya demikian. Aku berpikir sudah semestinya bisa memberi dampak positif melalui hasil usaha keras walaupun beberapa kali terjadi perbedaan pendapat dan kekurangan dalam pekerjaan, salah satunya adalah komunikasi.


Tak pernah habis di benakku untuk menceritakan masalah tersebut ke salah seorang teman kerjaku. Ternyata, dia pernah beberapa kali mengalami hal yang sama, seperti yang telah kualami di kantor.


Namun perjalananku di kantor yang berlokasi di Sunter Agung masih belum berakhir….


Suasana baik tersebut rupanya tidak berlangsung seterusnya. Menjelang akhir tahun 2019, sebelum pandemi merebak, aku merasa tidak nyaman. Atasanku memintaku untuk mengerjakan jobdesc yang berbeda. “Apa yang terjadi dengan semua ini? Maksudnya apakah ini?” Jobdesc yang diubah secara mendadak itu membuatku jadi bertanya-tanya: apa yang menyebabkannya?


Pekerjaan dengan jobdesc baru pun kukerjakan, tetapi hari-hariku bekerja menjadi terasa berbeda. Revisi berkali-kali kini kuhadapi, tapi dalam hati aku tidak menyerah.


Di tengah merebaknya pandemi COVID-19 sebelum kejadiannya mendarat ke negeri kita, aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Di balik kesibukan dengan jobdesc-nya, tiba- tiba aku dipanggil oleh HRD ke ruangannya. Sangat mengejutkan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Berusaha untuk tenang dan tidak panik saat dipanggil.


Di ruangannya dia memulai percakapan mengenai masalah yang kurang menyenangkan terjadi selama di kantor hingga keputusan yang harus dilakukan. Dia sambil mengetik di layar PC dia memintaku untuk akan dimutasi ke divisi lainnya, namun dia berkata masih belum tahu divisi mana karena masih sedang dibicarakan. Aku tetap menunggu kabar selanjutnya bagaimana melalui chatting. (Harusnya aku ada bukti chat aku dengan dia namun sayangnya chatnya sudah dihapus, aku tetap ingat apa yang dia tuliskan itulah membuat hatiku jadi tidak tenang, dan ada juga bukti chat lainnya antara aku dan teman” se-kerja.).


Tidak lama kemudian, aku dipanggil lagi untuk kedua kalinya oleh HRD yang sama ke ruangannya. Dia mengetik di layar PC bukannya menyetujui keputusan mutasi pekerjaan, malah mengubah keputusan lain yang tidak menyenangkan, yaitu aku disuruh resign dan mencari pekerjaan baru. Aku menjadi kaget ketika mendengar penjelasan darinya, aku tidak bisa menjawab apa-apa dan langsung menunduk kepala dengan perasaan kecewa dan sedih hati. ‘Ini perlakuan sudah melebihi dari diskriminasi, juga TIDAK ADIL.’ Aku semakin tidak percaya, tidak menyangka kenapa aku diperlakukan seperti itu padahal aku belum berkata apa- apa tentang resign atau lainnya. 


Setelah kejadian itu, tiga hari aku tidak bisa tidur dengan tenang karena membayangkan hal tersebut. Sejak itu, Mamaku menyadari apa yang terjadi padaku setelah aku menceritakan semuanya. Dan juga ke teman gerejaku.


Pandemi pun akhirnya merebak di negeri kita, dan per bulan Maret hampir semua karyawan di kantorku mengikuti kebijakan pemerintah untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Sembari WFH, aku menanti kabar baik. Semoga saja aku mendapat instruksi dari atasan kantor untuk segera berpindah ke jobdesk lain. Kudoakan harapan itu dan berserah. Namun, kenyataan ternyata berkata lain. Kantorku memberitahuku bahwa aku mendapatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk sementara waktu. Dengan segala usahaku untuk bekerja, aku merasa ini SANGAT TIDAK ADIL dan ini semua rasanya di luar dugaanku.


Sejak sudah di info bahwa aku diPHK-in dengan alasan pandemi, ternyata semua ini di luar dugaanku. Aku dikabari melalui telepon dari mamaku oleh kantornya untuk resign dari kantornya. AH, INI BENAR - BENAR TIDAK JELAS ATURANNYA. AKU TIDAK PAHAM MAKSUDNYA APA. Dalam hatiku menjadi down ketika mendengar berita tersebut, jujur kecewa karena ketidak jujurannya. Janji yang diberikan bukan janji yang baik melainkan janji palsu. Padahal dari awal dia juga bersepakat untuk memindahkan / mutasi aku ke jobdesk baru, namun berubah haluan lainnya sampai akhirnya resign tanpa sepengetahuanku.


Pekerjaan ini adalah pekerjaan pertamaku setelah dua tahun mencari. Berkat dari salah satu teman Tuli yang sama- sama teman magangku dulu, yang memberi info loker. Masa-masa tersebut adalah masa penuh perjuangan dan kesedihan, karena aku mengalami banyak penolakan. Namun bersyukurnya, Tuhan mengirim mamaku untuk selalu menghiburku. Mama bilang untukku sabar, meskipun kadang dia pun ikut kesal dengan orang-orang yang memperlakukanku dengan buruk. Bukan cuma Mamaku saja, aku juga dihibur oleh teman gereja aku saat setelah mendengar curhat dari aku.


Aku tidak lupa menceritakan kejadiannya ke teman Tuli, dia menjadi sedih dan kecewa, ‘I am sorry to hear. Aku tidak menyangka kamu diperlakukan tidak baik oleh kantor itu. Jahat banget ya. Yang sabar ya.’ Aku juga menceritakan ke salah satu teman gerejaku, dan teman komselku. Mereka pun kaget dan tidak percaya.


Menanti harapan baru


Hope will not be disappointed
Statusku saat ini masih bertahan menjadi karyawan, tetapi aku tidak melakukan pekerjaan apa pun di kantor. Aku merasa impianku untuk menjadi seorang karyawan yang baik dan sukses di tengah keterbatasanku sebagai Tuli menjadi pupus. Namun aku tahu bahwa Tuhan mengenal betul aku dan apa yang menjadi pergumulanku, Dia tetap hadir memberi kesabaran dan penghiburan bagiku.


Di masa-masaku tidak bekerja ini, aku mendapatkan waktu lebih leluasa untuk menemukan Tuhan lewat saat teduh dan doaku, juga di ibadah daring setiap Minggu. Meskipun saat ini keadaanku terasa sedang terombang-ambing, tetapi harapan dan doaku pada Tuhan tidaklah padam.


Tuhan tidak tidur, dan melalui kuasa-Nya yang tidak terbatas, Dia menerbitkan kembali sinar harapan yang telah padam kepada orang-orang yang terdampak pandemi. Terutama kepada teman- teman Tuli yang masih berjuang untuk mendapat kesetaraan dalam hal akses untuk Tuli, pekerjaan dan usaha bisnis karena mereka juga butuh uluran tangan kasih dari teman Dengar.


Semoga aku sebagai Tuli, juga kita yang mungkin bergumul dengan pekerjaan tetap semangat, sebab Tuhan memelihara kita dan memimpin kita pada pekerjaan yang baik.


—-------------------------


Beginilah kisah gue selama 2 tahun bekerja di kantornya.. Buat gue itu bersyukur karena sudah diberi kesempatan bekerja di kantornya, berjuang melewati lika-liku dalam pekerjaan, lingkungan pertemanan, sampai di titik akhir. 😔


Mulai dari fingerprints sebagai absensi, kerja cepat atau kerja lambat sebelum deadline, pernah sampai lembur, outing kantor 2x yang tidak kalah seru dan menyenangkan sekaligus menambah pengalaman, membangun kebersamaan dan kekeluargaan, acara kantoran seperti Natal, Sincia, Idul Fitri, ulang tahun teman kantor, dan banyak lagi. Pernah juga diajak nongkrong di luar jam kerja kantor dan di jam pulang. 


Namun, pernah aja ada momen yang pahit dan drama yang kurang menyenangkan sejak tahun 2019 dimana gue ikut komsel karena liat story dari salah satu teman kantor dan juga dari ex-coach, sampai gue dicemooh / di-bullying sebelum pandemi. Gue mau mencoba maafin tapi buat gue sulit karena….kasus kehilangan pekerjaan hingga kasus penuduhan. 😢


Semoga melalui kisah ini, teman- teman Tuli dan disabilitas lainnya, siapapun yang sudah kenal gue bisa jadi pembelajaran agar tidak ada lagi kasus diskriminasi bagi teman disabilitas terutama dalam pekerjaan dan lainnya. 😊


Boleh banget buat lo yang pernah mengalami hal yang serupa dengan apa yang gue alami, mau curhat via chat WA silakan DM IG gue untuk minta no hp WA gue ya. 😉


Cia you di mana lo berada…. ✊😁

Selasa, 28 November 2017

Artikelku Untuk WarungSaTeKamu : SATU HAL YANG TERLUPAKAN KETIKA SEMUA IMPIANKU TIDAK TERCAPAI


Haii Readers,
I am back after a few weeks not writing..

This is my second writing for WarungSaTeKamu web which it was published on October 16th 2017 (a month ago). I post it on my personal blog for my own memories and also for readers who feel missed this article from me. And here is my writing, please read.


Setiap orang boleh memiliki keinginan dan cita-cita. Tetapi, pada kenyataannya, terlepas dari sekeras apapun upaya kita untuk mewujudkannya, tidak semua yang kita harapkan bisa terjadi sesuai keinginan kita. Inilah realita kehidupan. Pernahkah kamu mengalaminya? Aku pernah.

Sebagai seorang perempuan yang dilahirkan dalam keadaan tunarungu, saat memasuki masa-masa TK, kedua orangtuaku menyekolahkanku di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB). Di sana aku pernah diberi tugas untuk membuat buku harian oleh guruku. Setiap hari, sepulang sekolah aku menuliskan cerita-cerita, kemudian mengumpulkannya kepada guruku keesokan harinya. Bermula dari sekadar tugas, lama-kelamaan menulis menjadi kegemaranku, hingga aku pun bercita-cita kelak ingin menjadi seorang penulis.

Beberapa tahun setelahnya, kedua orangtuaku memindahkanku ke sebuah sekolah umum. Saat duduk di bangku SMP, aku melihat kalau ternyata teman-temanku punya cita-cita yang beragam. Ada yang ingin menjadi seorang dokter, pilot, perawat, pengusaha, juga cita-cita lainnya. Karena saat itu aku belum pernah mendengar ada seorang penyandang tunarungu yang menekuni profesi-profesi tersebut, aku jadi tertantang untuk memiliki cita-cita seperti mereka, profesi yang biasa dilakoni oleh orang-orang yang kondisi fisiknya sempurna. Waktu itu aku bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta, psikolog, desainer grafis, bahkan juga seorang chef.

Menjelang kelulusan SMA, aku bergumul tentang rencana mau melanjutkan kuliah ke mana. Aku berdoa pada Tuhan dan juga bertanya kepada orangtuaku tentang pilihan apa yang harus kuambil. Waktu itu orangtuaku menyarankan agar aku tidak memilih tempat kuliah dengan lokasi yang lokasinya jauh dari rumah. Saat itu aku berbicara jujur pada ibuku tentang cita-citaku dan rencana kuliah. Namun, jawaban ibuku membuatku kecewa.

“Wah kalau kamu menjadi pendeta rasanya mustahil sekali. Apakah kamu bisa? Kamu kan tuli. Bagaimana kalau sampai kamu salah dalam sharing atau ngomong yang tidak jelas malah membuat orang- orang tidak mengerti atau malah tertawa? Untuk psikologi rasanya kamu tidak akan bisa…bla bla bla…. Ibu juga takut dan khawatir jika terjadi sesuatu apa- apa dengan kamu selama kuliah nanti, nak.” Kemudian ibuku memberikan jawaban lain yang cukup panjang.

Ibuku tidak setuju dengan pilihan cita-cita yang kuinginkan sedangkan ayahku hanya diam saja seolah tidak peduli, sehingga sejak saat itu aku merasa segala impian yang kucita-citakan pun kandas. Kemudian ayahku menyarankanku untuk kuliah di jurusan Ilmu Komputer saja karena menurutnya prospek karier di jurusan ini bagus. Aku pun menuruti saran ayahku dan mengambil jurusan Teknik Informatika. Sepanjang waktu studiku selama empat tahun, aku berjuang dengan keras supaya bisa mendapatkan nilai yang baik dan juga lulus sebagai Sarjana. Namun, karena jurusan yang kuambil bukanlah jurusan yang benar-benar kuinginkan, semangatku dalam kuliah sering naik turun. Ketika semangatku turun, sebuah ayat dari Yeremia 29:11 selalu menjadi pengingat dan memberiku kekuatan. Ya, aku percaya bahwa Tuhan akan memberiku masa depan yang penuh harapan.

Setelah aku dinyatakan lulus sebagai seorang Sarjana, seperti para fresh graduate lainnya aku pun mencari informasi lowongan pekerjaan baik melalui media sosial ataupun informasi dari orang-orang. Lamaran sudah kumasukkan melalui berbagai situs penyedia jasa lowongan pekerjaan. Tetapi, semuanya nihil. Padahal setelah aku cermati, tidak ada yang salah dengan CV-ku. Lalu, aku juga tidak lupa dengan waktu teduh, selalu berdoa dan bekerja (ora et labora) serta memohon hikmat pada Tuhan supaya ada perusahaan yang mau menerima penyandang tunarungu. Selain itu, aku juga sering bertanya kepada teman- teman tentang informasi pekerjaan, sembari meminta saran dari mereka untuk mencoba kerja di kantor lama tempat aku magang dulu. Tetapi apalah dayaku ternyata hasilnya sama.

Satu bulan, dua bulan, hingga setahun berlalu tanpa ada kejelasan. Semua perusahaan yang meresponsku hanya memberikan harapan palsu. Ceritanya, setelah mengikuti interviewuntuk keempat kalinya di perusahaan yang berbeda, katanya aku akan dikabari lebih lanjut melalui e-mail. Tapi, sekian lama menanti, tak kunjung ada e-mail yang kuterima. Aku menjadi bingung, putus asa, dan juga berprasangka buruk. Apakah mungkin karena keadaan disabilitasku yang membuat perusahaan-perusahaan jadi tidak mau menerimaku bekerja? Atau, apakah karena posisi yang kuambil tidak sesuai dengan jurusan kuliahku dulu?

Sampai di titik ini aku merasa ini adalah momen terendahku sebagai seorang pencari kerja selama setahun. Aku merasa kecewa dan putus asa, bahkan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku merasa bahwa semua yang telah kulakukan itu sia-sia sehingga akhirnya aku berhenti untuk mencari pekerjaan.

Sebuah pelajaran dari kegagalan dan impian yang kandas

Di balik momen-momen sulitku sebagai seorang pencari kerja, aku sadar bahwa aku tidak bisa hanya sekadar berpangku tangan. Bagaimanapun juga aku harus memiliki penghasilan sendiri. Aku mulai mencari cara-cara lain. Jika aku tidak bisa menemukan perusahaan yang bisa memberiku pekerjaan, maka aku bisa menciptakan pekerjaan untuk diriku sendiri. Sejak saat itu, aku mencoba memulai usaha kecil-kecilan dengan berjualan pulsa elektronik. Hasil dari jualan ini memang tidaklah seberapa, akan tetapi aku percaya bahwa ini adalah langkah terbaik untukku belajar memulai usaha dari nol.

Selain berjualan pulsa, aku juga membantu melanjutkan usaha bersama keluargaku di rumah. Walaupun aku tidak menyukai pekerjaan itu karena aku cukup kesulitan untuk berkomunikasi terhadap pembeli, tetapi aku coba menikmatinya sebagaimana mestinya saat mengingat betapa beratnya hidupku. Aku bersyukur karena keluargaku dan beberapa orang pembeli tersebut mengenalku dengan baik dan mereka akhirnya memahami keadaanku.

Sebelumnya itu, aku juga pernah berencana mencoba bisnis online yaitu mempromosikan sebuah produk melalui media sosial berdasarkan permintaan dari beberapa temanku. Tetapi, setelah aku berunding dengan ibuku tentang bisnis online ternyata tidak mendapat persetujuan dari ibuku dengan beberapa alasan yang membuatku kecewa. Padahal itu satu-satunya cara terbaik untuk mendapat penghasilan. Aku pun sedih, putus asa, dan tidak tahu harus berbuat apa setelah mendengar hal tersebut.

Ketika aku mengingat kembali momen-momen terendah dalam hidupku, kadang aku merasa kalau diriku itu bodoh dan kacau. Bahkan, dulu aku sempat bertanya kepada Tuhan: Mengapa aku selalu gagal? Apakah karena imanku kurang? Saat itu aku hanya berfokus pada kegagalan demi kegagalan. Aku berfokus pada impianku yang kandas hingga aku melupakan satu hal yang teramat penting: Tuhan tetap berlaku baik. Kasih setia-Nya tidak berkesudahan dan rahmat-Nya tak pernah habis (Ratapan 3:22).

Ada banyak hal dalam kehidupan ini yang sulit dimengerti, termasuk mengapa Dia mengizinkanku dilahirkan dalam keadaan tuli, mengalami banyak kegagalan, dan seolah membiarkan setiap impianku kandas. Tetapi, satu hal yang aku tahu dengan pasti bahwa Tuhan itu baik bukan hanya karena dia memberikanku kesuksesan, tetapi karena Dia memang baik. Tuhan mengasihiku bukan hanya karena Dia memberiku berkat, tetapi karena Dia adalah kasih. Seperti Ayub yang mengakui kebesaran Tuhan, aku pun yakin bahwa karena Dia adalah Tuhan yang Mahabesar, maka tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya. “Aku tahu Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).

Aku tidak menyesal karena telah gagal berkali-kali. Aku juga tidak menyesal karena impian-impian yang kudambakan sejak dahulu pada akhirnya tidak terwujud. Aku percaya bahwa hidupku itu ibarat pensil dan kertas. Aku bisa menuliskan banyak keinginanku di atas kertas itu. Tetapi, aku tidak boleh lupa bahwa Tuhan memiliki alat tulis yang lebih lengkap. Ketika ada keinginanku yang tidak baik, Dia bisa menghapusnya dan menuliskan yang lebih baik dan tentunya terbaik untukku.

Aku percaya bahwa pekerjaan sederhana yang aku kerjakan saat ini adalah kesempatan berharga yang Tuhan berikan kepadaku. Ketika aku melakukannya dengan setia dan bertanggung jawab, aku yakin bahwa kelak Tuhan akan memberiku tanggung jawab yang lebih besar.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”
 (Roma 8:28).


Thank you readers and lets wait for the next article from me ya.
God Bless you!