2023

Minggu, 17 Desember 2023

KETIKA IMPIANKU BERAKHIR KANDAS, DENGARKAN KISAHKU SELAMA 2 TAHUN BEKERJA


Halo!

Kembali lagi di blog saya.. 👋


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia di blog ini. Hari ini saya mau membagikan artikel baru. Sebenarnya saya sudah lama menulis artikel ini di tahun 2020, di mana saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan tentang pekerjaan yang sudah dijalani selama 2 tahun sebelum COVID-19 merebak. Dan juga, artikel ini saya tulis untuk dimuat di salah situs website rahasia, tulisan ini dibuat secara singkat dan padat tidak sampai mendetail. Jadi, saya langsung merombak jadi cerita yang sebenarnya.


Saya akan mengucapkan terima kasih kepada kalian yang kenal maupun tidak kenal saya, karena sudah membaca blog terutama pada kisah saya.


Here is my story, hopefully you enjoy my story.

—----------------------------------------------------------


“Akan bersyukur kalau sudah mendapat pekerjaan, atau perusahaan sudah mau menerima teman disabilitas bekerja setelah mempercayai kemampuannya.” pikir orang- orang. 


Namun, apa yang aku pikirkan kurasa belum yakin karena mencari pekerjaan untuk teman- teman disabilitas itu tidak mudaaahh…. 😢 Kenapa? Karena tidak semua perusahaan itu inklusif alias belum sepenuhnya menghargai atau menerima teman dengan disabilitas, dan masih menganggap rendah terhadap mereka.


Sama seperti aku juga. Meski terlahir dengan kondisi Tuli, itu tidak menyurutkan semangatku untuk menggapai sukses dalam karir. Aku memiliki beberapa teman yang mengalami Tuli sepertiku yang juga sedang berjuang meniti kariernya. Kisah pekerjaanku dimulai pada pertengahan Juli 2018, ketika seorang teman Tuli sepertiku mengirimkan informasi lowongan kerja posisi di bidang Sosial Media di daerah Sunter, Jakarta Utara kepadaku melalui WhatsApp chat. 


Berawal dari keraguan, aku langsung melamar dan menunggu panggilan interview. Eh… Setelah melewati proses rekrutmen, aku diterima bekerja di sana. 


Dan perjalananku bekerja dimulai…..


Dengan penuh semangat, ku bangun pagi, siap- siap dengan pakaian kemeja dan celana formal, sarapan dan berangkat diantar oleh bokapku. Walaupun jarak dari rumah ke kantor tidak begitu jauh, hanya membutuhkan 15-20 menit untuk tiba di kantor. Setiba di kantor sebelum jam kerja dimulai jam 08.30, aku sudah dipersilakan duduk di meja baru oleh salah satu rekan kerja, dan tidak lupa juga berkenalan dengan rekan- rekan barunya sembari dengan jalan memutar dari satu divisi ke divisi lainnya hingga selesai.

Ora Et Labora Sebelum Bekerja


Setiap hari, sejak awal aku masuk sebagai karyawan baru, sudah absen dengan fingerprint, masuk ke ruangan divisi, aku tidak lupa memulai dengan doa sebelum bekerja dan terus memohon hikmat dari Tuhan agar segalanya dipermudahkan. Selama tiga bulan masa training, aku mempelajari semua produk obat tradisional Tiongkok untuk nantinya membuat konten di media sosial yang berisi informasi kesehatan yang berkaitan dengan produk obat tersebut. Setelah konten diunggah, aku perlu melakukan monitoring terhadap bagaimana performa konten tersebut. 

Bersyukur kepada Tuhan tidak hanya di pekerjaan saja, aku juga senang karena mereka mau berbaur denganku, meskipun aku Tuli. Awalnya aku ragu dan takut tidak diterima atau tidak dianggap. Aku juga berpikir bahwa tidak mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja di mana ada teman- teman dengar, karena butuh waktu. Namun, Puji Tuhan, mereka semua baik dan menyenangkan. Meskipun sejujurnya aku tidak tahu latar belakang dan budaya mereka bagaimana, aku tetap menghargai siapapun mereka. Seperti berbagi makanan, ngajak ngobrol, nongkrong, acara hari raya, apalagi sudah aku lakukan dengan mereka.


Balik lagi dengan pekerjaan, aku tetap semangat cari ide konten yang berkaitan dengan produk obat. Mulai dari desain konten hingga copywriting setiap hari, ngasih hasil kontennya ke atasan. ‘Sudah oke, belum?’ , ‘Sudah oke. Boleh dipost.’, ‘Aku cek dulu’, ‘Sudah ya. Silakan direvisi.’, blablablaa…. Begitu percakapan dari aku ke atasan saat berurusan dengan konten sebelum dipost di media sosial. Sejujurnya, aku belum terbiasa dengan rutinitas pekerjaanku mungkin karena aku baru memulai kali. 


Aku ingat janji Tuhan dalam Yesaya 41:3, bahwa Tuhanlah yang memegang tanganku dan menopangku. Yang perlu kulakukan hanyalah percaya dan tidak takut.


Isaiah 41 : 3 KJV


Ketika Segala Sesuatu Tidak Sesuai Dengan Ekspektasi


“Bermimpi besarlah. Bekerja keraslah, berdoalah, tetaplah berpikiran positif dan yakinlah bahwa mimpimu pasti akan terwujud.” Sebuah kalimat ini tidak pernah lepas dari benakku sejak aku sudah lama menjalani pekerjaan di kantor hingga 1 tahun lebih, tepatnya hingga tahun 2019. Puji Tuhan semua karena anugerahMu, aku bisa melewati setiap tantangan dalam pekerjaan dan juga memiliki seorang teman baik yang paling mengerti setiap kekuranganku. Selain itu, Tuhan ingin aku bisa berbaur dengan teman se-divisiku dan teman – teman divisi lainnya. Dan ternyata…. 


Setelah 1 tahun setengah lebih, aku tidak menyadari jika ada yang mengganjal di hatiku. Jangankan tentang pekerjaan saja, lingkungan kantor menjadi berbeda dari biasanya. Tetiba aku mendapat perlakuan kurang menyenangkan gara- gara kasus dari salah satu teman dari divisi lainnya. Ditambah ada yang mendadak jutek dan cuek bebek dari biasanya alias tidak ada yang mengajak ngobrol. Itulah membuatku terheran- heran. ‘Apakah mereka sibuk atau mereka hanya sudah lupa sama aku?’


Aku tidak tahu kesalahan atau triggernya di mana yang menyebabkan hal itu terjadi. Aku tetap berpikir positif dan sabar selama bekerja.


‘Apakah yang aku berikan dan apa yang aku kerjakan sudah berdampak bagi perusahaan?’ dalam hatiku bertanya demikian. Aku berpikir sudah semestinya bisa memberi dampak positif melalui hasil usaha keras walaupun beberapa kali terjadi perbedaan pendapat dan kekurangan dalam pekerjaan, salah satunya adalah komunikasi.


Tak pernah habis di benakku untuk menceritakan masalah tersebut ke salah seorang teman kerjaku. Ternyata, dia pernah beberapa kali mengalami hal yang sama, seperti yang telah kualami di kantor.


Namun perjalananku di kantor yang berlokasi di Sunter Agung masih belum berakhir….


Suasana baik tersebut rupanya tidak berlangsung seterusnya. Menjelang akhir tahun 2019, sebelum pandemi merebak, aku merasa tidak nyaman. Atasanku memintaku untuk mengerjakan jobdesc yang berbeda. “Apa yang terjadi dengan semua ini? Maksudnya apakah ini?” Jobdesc yang diubah secara mendadak itu membuatku jadi bertanya-tanya: apa yang menyebabkannya?


Pekerjaan dengan jobdesc baru pun kukerjakan, tetapi hari-hariku bekerja menjadi terasa berbeda. Revisi berkali-kali kini kuhadapi, tapi dalam hati aku tidak menyerah.


Di tengah merebaknya pandemi COVID-19 sebelum kejadiannya mendarat ke negeri kita, aku tidak tahu apa yang telah terjadi. Di balik kesibukan dengan jobdesc-nya, tiba- tiba aku dipanggil oleh HRD ke ruangannya. Sangat mengejutkan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Berusaha untuk tenang dan tidak panik saat dipanggil.


Di ruangannya dia memulai percakapan mengenai masalah yang kurang menyenangkan terjadi selama di kantor hingga keputusan yang harus dilakukan. Dia sambil mengetik di layar PC dia memintaku untuk akan dimutasi ke divisi lainnya, namun dia berkata masih belum tahu divisi mana karena masih sedang dibicarakan. Aku tetap menunggu kabar selanjutnya bagaimana melalui chatting. (Harusnya aku ada bukti chat aku dengan dia namun sayangnya chatnya sudah dihapus, aku tetap ingat apa yang dia tuliskan itulah membuat hatiku jadi tidak tenang, dan ada juga bukti chat lainnya antara aku dan teman” se-kerja.).


Tidak lama kemudian, aku dipanggil lagi untuk kedua kalinya oleh HRD yang sama ke ruangannya. Dia mengetik di layar PC bukannya menyetujui keputusan mutasi pekerjaan, malah mengubah keputusan lain yang tidak menyenangkan, yaitu aku disuruh resign dan mencari pekerjaan baru. Aku menjadi kaget ketika mendengar penjelasan darinya, aku tidak bisa menjawab apa-apa dan langsung menunduk kepala dengan perasaan kecewa dan sedih hati. ‘Ini perlakuan sudah melebihi dari diskriminasi, juga TIDAK ADIL.’ Aku semakin tidak percaya, tidak menyangka kenapa aku diperlakukan seperti itu padahal aku belum berkata apa- apa tentang resign atau lainnya. 


Setelah kejadian itu, tiga hari aku tidak bisa tidur dengan tenang karena membayangkan hal tersebut. Sejak itu, Mamaku menyadari apa yang terjadi padaku setelah aku menceritakan semuanya. Dan juga ke teman gerejaku.


Pandemi pun akhirnya merebak di negeri kita, dan per bulan Maret hampir semua karyawan di kantorku mengikuti kebijakan pemerintah untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Sembari WFH, aku menanti kabar baik. Semoga saja aku mendapat instruksi dari atasan kantor untuk segera berpindah ke jobdesk lain. Kudoakan harapan itu dan berserah. Namun, kenyataan ternyata berkata lain. Kantorku memberitahuku bahwa aku mendapatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk sementara waktu. Dengan segala usahaku untuk bekerja, aku merasa ini SANGAT TIDAK ADIL dan ini semua rasanya di luar dugaanku.


Sejak sudah di info bahwa aku diPHK-in dengan alasan pandemi, ternyata semua ini di luar dugaanku. Aku dikabari melalui telepon dari mamaku oleh kantornya untuk resign dari kantornya. AH, INI BENAR - BENAR TIDAK JELAS ATURANNYA. AKU TIDAK PAHAM MAKSUDNYA APA. Dalam hatiku menjadi down ketika mendengar berita tersebut, jujur kecewa karena ketidak jujurannya. Janji yang diberikan bukan janji yang baik melainkan janji palsu. Padahal dari awal dia juga bersepakat untuk memindahkan / mutasi aku ke jobdesk baru, namun berubah haluan lainnya sampai akhirnya resign tanpa sepengetahuanku.


Pekerjaan ini adalah pekerjaan pertamaku setelah dua tahun mencari. Berkat dari salah satu teman Tuli yang sama- sama teman magangku dulu, yang memberi info loker. Masa-masa tersebut adalah masa penuh perjuangan dan kesedihan, karena aku mengalami banyak penolakan. Namun bersyukurnya, Tuhan mengirim mamaku untuk selalu menghiburku. Mama bilang untukku sabar, meskipun kadang dia pun ikut kesal dengan orang-orang yang memperlakukanku dengan buruk. Bukan cuma Mamaku saja, aku juga dihibur oleh teman gereja aku saat setelah mendengar curhat dari aku.


Aku tidak lupa menceritakan kejadiannya ke teman Tuli, dia menjadi sedih dan kecewa, ‘I am sorry to hear. Aku tidak menyangka kamu diperlakukan tidak baik oleh kantor itu. Jahat banget ya. Yang sabar ya.’ Aku juga menceritakan ke salah satu teman gerejaku, dan teman komselku. Mereka pun kaget dan tidak percaya.


Menanti harapan baru


Hope will not be disappointed
Statusku saat ini masih bertahan menjadi karyawan, tetapi aku tidak melakukan pekerjaan apa pun di kantor. Aku merasa impianku untuk menjadi seorang karyawan yang baik dan sukses di tengah keterbatasanku sebagai Tuli menjadi pupus. Namun aku tahu bahwa Tuhan mengenal betul aku dan apa yang menjadi pergumulanku, Dia tetap hadir memberi kesabaran dan penghiburan bagiku.


Di masa-masaku tidak bekerja ini, aku mendapatkan waktu lebih leluasa untuk menemukan Tuhan lewat saat teduh dan doaku, juga di ibadah daring setiap Minggu. Meskipun saat ini keadaanku terasa sedang terombang-ambing, tetapi harapan dan doaku pada Tuhan tidaklah padam.


Tuhan tidak tidur, dan melalui kuasa-Nya yang tidak terbatas, Dia menerbitkan kembali sinar harapan yang telah padam kepada orang-orang yang terdampak pandemi. Terutama kepada teman- teman Tuli yang masih berjuang untuk mendapat kesetaraan dalam hal akses untuk Tuli, pekerjaan dan usaha bisnis karena mereka juga butuh uluran tangan kasih dari teman Dengar.


Semoga aku sebagai Tuli, juga kita yang mungkin bergumul dengan pekerjaan tetap semangat, sebab Tuhan memelihara kita dan memimpin kita pada pekerjaan yang baik.


—-------------------------


Beginilah kisah gue selama 2 tahun bekerja di kantornya.. Buat gue itu bersyukur karena sudah diberi kesempatan bekerja di kantornya, berjuang melewati lika-liku dalam pekerjaan, lingkungan pertemanan, sampai di titik akhir. 😔


Mulai dari fingerprints sebagai absensi, kerja cepat atau kerja lambat sebelum deadline, pernah sampai lembur, outing kantor 2x yang tidak kalah seru dan menyenangkan sekaligus menambah pengalaman, membangun kebersamaan dan kekeluargaan, acara kantoran seperti Natal, Sincia, Idul Fitri, ulang tahun teman kantor, dan banyak lagi. Pernah juga diajak nongkrong di luar jam kerja kantor dan di jam pulang. 


Namun, pernah aja ada momen yang pahit dan drama yang kurang menyenangkan sejak tahun 2019 dimana gue ikut komsel karena liat story dari salah satu teman kantor dan juga dari ex-coach, sampai gue dicemooh / di-bullying sebelum pandemi. Gue mau mencoba maafin tapi buat gue sulit karena….kasus kehilangan pekerjaan hingga kasus penuduhan. 😢


Semoga melalui kisah ini, teman- teman Tuli dan disabilitas lainnya, siapapun yang sudah kenal gue bisa jadi pembelajaran agar tidak ada lagi kasus diskriminasi bagi teman disabilitas terutama dalam pekerjaan dan lainnya. 😊


Boleh banget buat lo yang pernah mengalami hal yang serupa dengan apa yang gue alami, mau curhat via chat WA silakan DM IG gue untuk minta no hp WA gue ya. 😉


Cia you di mana lo berada…. ✊😁

Senin, 04 Desember 2023

INSTEAD OF JUDGING THOSE WHO HURT ME, I CHOOSE TO PRAY FOR THEM


Halo Sahabat,

Semoga hari kamu baik ya...


Siapa ini yang sudah kangen membaca blog dari saya? 😌

Saya mau membagikan artikel baru, sebenarnya ini adalah artikel lama yang merupakan karya tulis saya untuk dimuat di salah satu situs rahasia. Semoga kalian enjoy membacanya. 

Here is my story…

—-------------------------------------------

Aku punya seorang teman yang tunarungu sepertiku. Aku mengenalnya sejak kami berada di sekolah khusus tunarungu beberapa tahun yang lalu. Kami juga berteman di salah satu media sosial. Pernah beberapa kali aku melihat curahan perasaan dan pengalamannya yang dia tuliskan di beberapa postingan.

Let's learn Sign Language

Suatu ketika, dia disakiti oleh kedua temannya yang bukan tunarungu. Kedua temannya itu melontarkan kata-kata yang kasar kepadanya hingga membuat dia menangis dan sakit hati. Kemudian, temanku itu mengungkapkan kekesalannya dengan menuliskannya di status-status dalam media sosialnya bersamaan dengan hasil screenshot foto yang berisikan percakapan konflik antara dia dan kedua temannya hingga membuahkan beberapa komentar dari teman- temannya.

Membaca status yang ditulis oleh temanku itu membuatku turut merasa sedih. Aku mengerti bagaimana pedihnya diperlakukan secara kasar oleh orang lain. Oleh karena itu, walaupun aku tidak terlalu sering bertemu dengannya, aku jadi tergerak untuk menolongnya. Aku mengirimkan pesan dan bertanya tentang keadaannya beberapa kali, tapi dia kadang menanggapi kadang juga tidak. Dia masih terus saja mengungkapkan kemarahannya melalui status-status di media sosialnya.

Sampai suatu ketika, dia akhirnya membalas pesan itu. Melalui aplikasi chatting dia memberanikan diri untuk bercerita kepadaku. Katanya, dia sempat merasa iri hati kepada temannya yang bisa memiliki pasangan hidup yang tidak memiliki kekurangan fisik. Lalu, singkatnya karena perasaan itulah mereka jadi terlibat konflik di mana kedua temannya itu semakin membuatnya merasa sakit hati. Mendengar penuturan itu, aku pun memberinya sedikit saran supaya dia bisa melupakan kejadian ini dan menjadikannya sebagai pelajaran agar kelak tidak terulang lagi. Lalu, aku mendoakannya, juga mendoakan kedua orang yang telah menyakitinya meski aku tidak terlalu mengenal mereka.

Akan tetapi, setelah pembicaraan kami usai, temanku itu masih belum berubah. Dia terus saja menuangkan emosinya melalui media sosial.

Kembali, aku menegurnya dengan lembut dan mendorongnya untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan juga memaafkan kedua orang yang telah menyakitinya itu. Dan, puji Tuhan karena pada akhirnya dia bisa pulih dari rasa sakit hatinya dan tidak lagi merasa sedih.

Pengalaman yang dialami oleh temanku itu juga mengingatkanku akan pengalaman serupa yang pernah aku alami. Dulu, aku pernah dibuat sakit hati oleh mantan pacarku karena tutur kata dan perbuatannya. Lalu, aku juga pernah merasa sakit hati karena merasa kehidupan ini tidak adil. Sulit rasanya menemukan pekerjaan untuk orang-orang penyandang disabilitas sepertiku. Jangankan untuk bekerja, untuk pelayanan di gereja pun terkadang sulit. Berat rasanya jika aku mengingat kembali momen-momen yang tidak menyenangkan itu. Seringkali aku pun menangis sendirian baik itu di gereja ataupun di rumah tanpa sepengetahuan orang lain, aku menangis sembari memendam rasa kekesalanku. Aku bertanya kepada Tuhan: “Mengapa harus begini? Aku tidak mengerti mengapa mereka bisa berbuat begitu kepadaku.”


Because hoping in God won't be disappointed

Tapi, alih-alih membiarkan diriku kecewa berlarut-larut dan menjadi terpuruk, aku percaya bahwa segala hal yang terjadi kepadaku itu pasti ada tujuannya. Oleh karena itu, aku memilih untuk berdoa. Aku belajar untuk mendoakan mantan pacarku itu, juga berdoa supaya melalui proses pencarian kerja yang sulit itu Tuhan boleh menyatakan kehendak-Nya kepadaku. Dan aku juga berdoa untuk bisa mendapat pasangan hidup yang mau mengisi menerima kekurangan fisikku sehingga tidak membuat aku menjadi kesepian.

Ketika ada orang yang menyakitiku, sebenarnya secara naluri aku sangat ingin membalas perbuatan mereka. Tapi, sebagai anak Tuhan aku tahu bahwa aku tidak boleh membalas perbuatan mereka sebab firman Tuhan berkata:

“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18).

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matus 7:1).

Sekalipun aku tahu bahwa mereka salah, tapi aku pun tidak layak untuk menghakimi orang lain karena sama seperti mereka, aku pun sama-sama orang berdosa.

Ketika aku disakiti, kedua ayat di atas selalu menguatkanku untuk tidak membiarkan diriku dikuasai oleh rasa dendam dan pembalasan. Aku tahu bahwa untuk mempraktikkan kedua ayat tersebut tidaklah mudah. Butuh kebesaran hati untuk menyerahkan segala rasa pedih dan dendam ke dalam tangan Tuhan. Bagianku adalah tetap berbuat baik dan mengasihi mereka yang telah menyakitiku. Hal paling sederhana yang bisa kulakukan adalah dengan mendoakan mereka supaya Tuhan memberkati mereka dan mereka pun boleh disadarkan akan kesalahannya dan tidak menyakiti orang lain lagi.

Iman Kristen adalah iman yang menuntut kita untuk hidup seturut dengan firman Tuhan. Maka, ketika Tuhan Yesus berkata: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu, itu bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah perintah yang harus kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mendoakan dan mengampuni orang yang telah menyakiti hati kita adalah langkah pertama menuju kesembuhan rohani. Biarlah Tuhan sendiri yang membalut, mengobati, dan menyembuhkan luka-luka di hati kita. Hanya Tuhan sajalah yang berhak menghakimi dan melakukan pembalasan atas apa yang telah orang lain perbuat atas kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengizinkan Dia membalut hati kita yang terluka.

Terakhir, untuk menutup tulisan ini, ada satu lagu berjudul “Mengampuni” yang liriknya begitu menyentuhku. Lirik lagu yang sederhana ini senantiasa mengajarku untuk tetap mengasihi orang lain, terlepas dari apapun keadaanya.

Ketika hatiku telah disakiti
Ajarku memberi hati mengampuni
Ketika hidupku telah dihakimi
Ajarku memberi hati mengasihi

Ampuni bila kami tak mampu mengampuni
Yang bersalah kepada kami
Seperti hati Bapa mengampuni
Mengasihi tiada pamrih.

—-------------------------------------------
End of my story...

Semoga melalui tulisan ini menjadi pesan buat teman- teman siapapun, termasuk disabilitas yang masih bergumul tentang pekerjaan, pasangan hidup, kesehatan, keuangan hingga hubungan dengan keluarga. Percayalah bahwa Tuhan akan terus menyertai dan tidak akan meninggalkan kamu.

God Bless you. 😊